Borok Oknum Dapur Program MBG Terbongkar: Roti Ditekan Sadis, Blundernya Malah Ributin 'Fee' Pribadi!

AKURAT BANTEN— Niat mulia negara menyejahterakan anak-anak Indonesia melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali ternoda oleh mentalitas culas oknum di tingkat operasional.
Sebuah utas curahan hati (thread) dari seorang pengusaha roti lokal mendadak meledak di media sosial setelah membongkar tabiat buruk pengelola dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tega menekan harga produksi demi kepentingan perut sendiri.
Unggahan yang dibagikan oleh akun Threads @rossadiahk_ pada Sabtu, 24 Oktober 2026 ini sontak memantik gelombang amarah publik.
Bagaimana tidak, di saat pemerintah berjuang menggerakkan roda ekonomi kerakyatan, oknum di lapangan justru terang-terangan mempermainkan anggaran dan blak-blakan meributkan fee pribadi.
Negosiasi 'Gong': Roti Berkualitas Ditekan di Bawah Harga Modal
Kisah bermula ketika sang pengusaha bakery dihubungi oleh seseorang yang mengaku sebagai pengelola dapur SPPG. Mereka berniat memesan pasokan roti burger untuk menu harian program Makan Bergizi Gratis.
Alih-alih melakukan transaksi bisnis yang sehat dan profesional, oknum tersebut justru melayangkan penawaran yang tidak masuk akal.
Harga awal roti yang dipatok Rp1.300 per biji ditawar sadis hingga merosot ke angka di bawah Rp1.000.
Duh, selama buka bakery ini sih yang paling gong! Kita produksi berusaha kasih yang baik, eh malah ada oknum yang tidak bertanggung jawab ikut andil dalam menyuplai bahan baku dapur, tulis @rossadiahk_ meluapkan kekesalannya.
Sebagai produsen yang menjaga standar kualitas, sang pengusaha menolak mentah-mentah permintaan tersebut.
Mengingat produknya dibuat menggunakan bahan-bahan terbaik tanpa pengawet, ia lantas memberikan solusi logis dengan menyesuaikan gramasi dari ukuran standar 40 gram (diameter 8 cm) menjadi 35 gram dengan harga Rp1.200 per biji.
Blunder Fatal: Kedok 'Minim Anggaran' Demi Kejar Fee
Alih-alih bersyukur masih diberikan solusi penyesuaian gramasi, oknum dapur tersebut justru melakukan blunder fatal.
Tanpa rasa bersalah, ia membongkar sendiri niat busuk di balik permintaannya: anggaran dari SPPG sebenarnya mencukupi, namun ia terancam tidak mendapatkan komisi pribadi jika harganya tidak ditekan serendah mungkin.
Budget dari SPPG-nya aja Rp1.200 per biji kak, jujur-jujur aja ini kak. Aku enggak dapet fee dong, kak? aku oknum tersebut dalam tangkapan layar percakapan yang dibagikannya.
Pengakuan polos tapi kelewatan ini kontan membuat sang pengusaha geleng kepala. Dalih anggaran minim yang awalnya di(gembor-gembor)kan sekadar kedok untuk menutupi hasrat berburu rente.
Maaf ni ya, awalnya minta di harga di bawah Rp1.000 untuk roti burger itu keterlaluan banget, akhirnya kita kasih solusi dikurangi gramasi sedikit, malah seenak jidat bilang dia ga dapat fee, kecam sang pemilik usaha dalam utasnya.
Warganet Murka: 'Bibit Korupsi Sejak Dini'
Tak butuh waktu lama, unggahan yang kini telah disaksikan lebih dari 140 ribu kali dan dibanjiri ribuan likes ini diserbu netizen.
Kolom komentar berubah menjadi ajang kecaman massal terhadap mentalitas koruptif di tingkat akar rumput. Sebagian besar warganet menyoroti betapa berbahayanya oknum semacam ini bagi masa depan program sosial negara.
“Di kalimat ‘Aku enggak dapet fee dong’, bibit korupsi banget ya Allah,” tulis akun @aku********a dengan nada geram.
“Programnya sebenarnya bagus untuk putaran ekonomi UMKM, tapi oknum seperti ini yang harus diputuskan rantainya,” timpal akun @ros*******k.
Peringatan Keras Pimpinan Pusat: UMKM Adalah Tulang Punggung
Kasus ini tentu menjadi ironi besar jika disandingkan dengan visi utama pemerintah.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, sebelumnya telah menegaskan secara tegas bahwa program MBG tidak hanya berorientasi pada pemenuhan gizi anak, melainkan instrumen vital untuk mendongkrak ekonomi kerakyatan secara transparan.
Program ini berdampak kepada ekonomi lokal dengan memberdayakan UMKM, petani, dan peternak. Syarat utamanya semua bahan makanan harus benar dan memenuhi standar keamanan, tegas Sudaryono dalam siaran resmi Badan Komunikasi (Bakom RI).
Berdasarkan data BGN per 9 Oktober 2026, tercatat ada 63.608 pemasok yang terlibat dalam rantai pasok MBG di 37 provinsi, di mana 52.689 pemasok atau 82,83 persen di antaranya adalah murni pelaku UMKM.
Ulah oknum lapang yang menjadikan program kerakyatan ini sebagai ladang pengerukan fee pribadi jelas merupakan ancaman nyata yang wajib disapu bersih.
Publik kini mendesak Badan Gizi Nasional untuk memperketat pengawasan dan melakukan audit internal secara berkala agar tangan-tangan serakah tidak mencoreng niat luhur negara untuk anak bangsa.(**)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Ballon d’Or 2026 Segera Terjawab! Ini Jadwal Pengumuman, Jam Tayang WIB, dan Kandidat yang Berebut Trofi
- 2Haaland Semprot Donnarumma di Tengah Laga, Blunder Sang Kiper Bikin Man City Tumbang!
- 3PILPRES 2029 Pecah Kongsi! Pengamat Cium Isyarat Jokowi-Prabowo Bukan Lagi Sejalan, Diduga Saling Berhadapan, Alasannya Begini
- 4Jusuf Kalla Heran Ditantang Buka Buku Nikah, Padahal Hanya Minta Jokowi Tunjukkan Ijazah Asli!
- 5Bakar Mesin di 'Kandang' Prabowo, Manuver Tersembunyi Jokowi Isyaratkan Persiapan PILPRES 2029
- 6Kekeringan Landa Cipete, PMI Pinang Salurkan Air Minum Bersih untuk Warga
- 7Rizal Fadillah Desak Prabowo Bersikap soal Gibran, Benarkah Wacana Pemakzulan Makin Panas?
- 8Ade Armando Sentil Sikap Prabowo soal Polemik Gibran, Benarkah Mas Wapres Tak Bisa Disalahkan?
- 9Akhirnya Liverpool Menang di Kandang! Gol Isak Bawa The Reds Bangkit, Rekor Buruk Anfield Terhenti
- 10MU Siapkan Revolusi Besar Jika Michael Carrick Dipecat, Rashford Bisa Jadi Korban Pertama Eddie Howe









